My Blog

6 Ilmuwan Muslim Ini Jarang Diketahui

Ilmuwan Muslim

Dari Baitul Hikmah inilah muncul para ulama besar Islam era Abbasiyah yang namanya terkenal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali, Al-Khawarizmi dan Al-Battani dan masih banyak lagi. Islam, sekaligus menjadi penerang bagi kemajuan dunia modern, khususnya di barat.

 

Zainuddin Lubis

 

Jauh sebelum Eropa dan Barat menemukan momentum kebangkitan—dikenal sebagai era Renaisans atau Pencerahan—Islam yang lebih dulu maju di Timur dan Barat (Spanyol dan Portugal), datang lebih dulu.

 

Apalagi di Spanyol, Dinasti Umayyah II melahirkan peradaban besar. Apa yang dikatakan sejarawan adalah bahwa Islam adalah sumber kebangkitan Eropa. Berbagai kota di Spanyol telah menciptakan peradaban besar, tidak hanya melalui kemegahan bangunannya, tetapi juga melalui kemajuan ilmu pengetahuan.

 

Cordoba telah menjadi salah satu kota yang paling megah dalam hal bangunan dan telah disebut kota intelektual. Maria Rosa Menocal dalam The Ornament of the World, Bagaimana Muslim, Yahudi, dan Kristen Menciptakan Budaya Toleransi di Abad Pertengahan Spanyol menyebutnya sebagai ornamen dunia.

 

Dengarkan apa yang dikatakan salah satu saudari Hroswita dari istana Otto U., yang berasal dari Gandersheim, tentang kemegahan peradaban Cordoba;

 

“Permata dunia yang cemerlang. Bersinar terang di barat. Sebuah kota mulia yang baru saja menjadi terkenal. Kota ini memiliki tentara yang gagah berani. Dia dibawa oleh para penakluk wilayah Hispania. Nama kotanya adalah Cordoba. Kota ini adalah kaya dan terkenal. Tempatnya bagus. Dipenuhi dengan segala kemewahan, terutama yang berisi tujuh kebijaksanaan (trivium dan quadrium),”

 

Seperti disebutkan di atas, Cordoba juga merupakan lautan pengetahuan. Ada universitas. Terbuka untuk semua orang yang ingin menjelajahi berbagai ilmu pengetahuan alam; kedokteran, astronomi, fisika, kimia dan matematika.

 

Di Cordoba, sebagai kota spiritual dan peradaban dunia Muslim barat, terdapat perpustakaan yang lengkap. Perpustakaan mengumpulkan berbagai buku tentang sains, tidak hanya tentang Islam tetapi juga tentang sains eksakta. Hebatnya, setidaknya Cordoba memiliki lebih dari 70 perpustakaan. Kota yang menjadi basis modernitas dan kemajuan Eropa modern.

 

Misalnya perpustakaan Khalifah Abdurrahman. Perpustakaan pribadi khalifah berjumlah sekitar 400.000 judul. Katalog perpustakaan khalifah berisi 44 jilid dan katalog berisi informasi tentang semua jenis buku yang berjumlah sekitar 600.000 judul.

 

Sebelum Spanyol mengikis peradaban di Barat, Islam lebih dulu mendirikan peradaban di Timur. Dinasti Abbasiyah dengan kota Baghdad sebagai “kota Arabian Nights”, dengan peradaban bangunan, arsitektur dan ilmu pengetahuan”.

 

Salah satu simbol peradaban Islam di Bagdad adalah Baitul Hikmah. Yang dimaksud dengan Rumah Hikmah adalah pusat penelitian (riset) dan ilmu pengetahuan. Baitul Hikmah didirikan oleh pemerintahan Dinasti Abbasiyah, yaitu Harun Ar-Rasyid (786-809), dan mencapai puncak kemajuannya pada era Al Ma’mun (813-830).

 

Dari Baitul Hikmah inilah muncul para ulama besar Islam era Abbasiyah yang namanya terkenal seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Al-Ghazali, Al-Khawarizmi dan Al-Battani dan masih banyak lagi. Islam, sekaligus menjadi cahaya bagi kemajuan dunia modern, khususnya di Barat.

 

Cendekiawan Islam yang jarang dikenal

 

Dalam artikel ini Anda akan fokus pada ulama Islam yang langka atau dikenal masyarakat Muslim pada umumnya. Meski jarang diungkapkan oleh media dan sejarawan, perannya dalam kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sangat penting.

 

Alhazen

 

Alhazen adalah seorang ilmuwan Muslim terkenal di Barat. Alhazen – Ibn al-Haytham – adalah seorang ilmuwan dari Basra. Dia hidup di bawah dinasti Abbasiyah. Kontribusinya terhadap sains modern sangat besar. Alhazen adalah ilmuwan pertama yang menemukan teori dasar optik fisiologis; Prinsip Optik Oftalmik dan Penglihatan.

 

Nasser Pouyaan, dalam jurnal Alhazen, Founder of Physiological Optics and Spectacles, memuji keterampilan dan kecerdasan ilmuwan Basrah ini. Berkat teori Alhazen, orang-orang saat ini akrab dengan kamera obscura. Menariknya, teori tersebut diilhami dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang Kusuf (kegelapan).

 

Abu Abdullah Muhamad Al-Idrisi

 

Al-Idrisi, nama populernya, merupakan ahli kartografi dalam Islam. Ia ahli dalam pembuatan peta. Al-Idrisi bisa menggambarkan peta dunia secara detail. Ia mampu menggambarkan dunia pra industri yang terbentang dari Samudera Atlantik hingga Pasifik.

 

Kamampuannya dalam geografi tak perlu diragukan lagi. Dalam buku, Islamic Civilization in Thirty Lives, Karya Chase F. Robinson, Al Idrisi mampu menyajikan wilayah geografis yang sebagian besar tidak terbayangkan pembacanya, yang menjungkir balikkan mata angin, dan menelan asumsi umumnya diterima begitu saja oleh manusia modern.

 

Dalam bidang fisika, Alhazen mengealkan hukum bias ptolomeus. Ia menganalisis dengan materi tentang pembiasan cahaya. Hasil risetnya, cukup memberikan sumbangsih di bidang astronomi. Pasalnya, lewat bias ptolomeus, berguna untuk mengamati waktu, mengeal gerak benda angkasa, pun mampu mengeal pelbagai fenomena alam.

 

Rashid Al-Din dari Ilkhanate

 

Rasid al-Din, Lahir Sekitar Tahun 1250 oleh Kota Hamadan, Iran Barat. Rashid lahir dari keluarga komunitas Yahudi, dan akademi rabbinik. Para sejarawan berbeda tentang kapan Rashid masuk Islam. Ada yang disebut ia sudah Islam sejak kecil. Namun, ada juga yang menyatakan saat dewasa, Rasyid baru memeluk Islam.

 

Keluarga Rashid al-Din, Termasuk Keluarga Terpandang dan Mengagumi Ilmu Pengetahuan. Ayahnya, Adalah Seorang Apoteker, Yang Masyhur di Ilkhanat. Dalam Jurnal, R. Amiti-Preiss, Yang Berjudul Ghazan, Islam and Mongolian Tradition; a view from Mamluk Sultanate, menyatakan bahwa Rashid al Din Termasuk tokoh intelektual muslim yang masyhur. Ia menyusun pelbagai karya dalam bidang teologi, filasafat, dan kedokteran. Ia dipanggil dengan “dokter”, karena kemasyhurannya dalam ilmu kedokteran.

 

Abu Bakar ar-Razi

 

Abu Bakar ar Razi, salah satu cendekiawan Muslim paling berpengaruh di dunia. Ar Razi lahir sekitar tahun 865 di Rayy – Teheran, ibu kota Iran saat ini. Dia membuat kontribusi besar bagi dunia di bidang sains dan kedokteran. Di barat ia dikenal sebagai Rhazes, ahli medis yang

 

Di bidang kedokteran, ia terkenal di seantero negeri. Dalam buku Filsafat Arab Klasik; Sebuah Antologi Sumber, McGinnis dan D.C. Reisman mengatakan bahwa Ar Razi adalah seorang dokter yang cerdik dalam mendiagnosis penyakit. Karena itu, ia dicari oleh berbagai orang untuk meminta jasanya, termasuk para pejabat dinasti Abbasiyah. Simak pengakuan Ar Razy;

 

“Saya melayani penguasa bukan sebagai orang bersenjata atau yang bertanggung jawab atas tugasnya, tetapi sebagai dokter dan orang kepercayaan, memiliki kebebasan bertindak pada salah satu dari dua kesempatan; baik pada saat sakit untuk menyembuhkannya dan memperbaiki tubuhnya.”

 

Pandangan Ar-Razi tentang kedokteran didasarkan pada penguasaannya terhadap banyak ilmu, baik Yunani, Sansekerta maupun Syria, dan tentu saja Arab. Chase Robinson menyatakan, pengetahuan Ar Razi di bidang kedokteran melahirkan berbagai buku, khususnya di bidang kedokteran.

 

Ini termasuk karya Abu Bakar Ar Razi; al Shuluk ala Jalinus, Tibb bal Fuqara wal Masakin, Man la Yahduruhu al Tibb, Kitab al Mansuri fi al Tibb. Salah satu karya besarnya di bidang kedokteran adalah al Hawi fi Tibb, sebuah ensiklopedia kedokteran yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di Amerika dan Barat. Buku ini juga sudah lama menjadi referensi universitas-universitas terbaik di kampus Eropa.

 

Seorang dokter dan ilmuwan Muslim, ia banyak menulis tentang subjek medis dalam berbagai karyanya, khususnya penyakit dalam, bedah tubuh, dan oftalmologi. Dalam sejarah yang dicatat oleh ar Razi, ia adalah dokter pertama yang menggunakan opium sebagai obat bius dan juga alkohol obat sebagai antiseptik.

 

Lubna dari Cordoba

 

Lubna adalah seorang wanita Muslim berpengaruh di dunia. Namun, namanya jarang diketahui. Kisah hidupnya penuh dengan inspirasi. Dimulai sebagai budak, kemudian sebagai juru kampanye literasi di Cordoba. Mengelola sekitar 500.000 buku perpustakaan Khalifah Abdurrahman III.

 

Selain itu, Lubna al-Qurtuba juga seorang penulis dan penerjemah. Lebih hebatnya lagi, ia ditugaskan oleh khalifah untuk menyalin berbagai teks, termasuk Euclid dan Archimedes.

 

Di sisi lain, setelah menjadi budak di masa lalunya, ia naik ke posisi berpengaruh dan berpangkat tinggi di bawah dinasti Umayyah II. Lubna menjadi sekretaris resmi Khalifah Abdurrahman III.

 

Lubna dari Córdoba juga merupakan salah satu pakar di bidang matematika. Ia termasuk dalam ilmuwan yang menguasai ilmu aritmatika. Hal ini tentu tidak mengherankan, karena ia bergelut dengan berbagai buku dari semua peradaban, terutama Yunani.

 

Seorang Andalusia, Ibnu Basykuwal, dalam bukunya Kitab al-Sila (Kairo, 2008), Vol. 2:324 menggambarkan sosok Lubna, tulisnya;

 

“Dia unggul dalam menulis, tata bahasa, dan puisi. Pengetahuan matematikanya juga sangat luas dan ia juga menguasai ilmu-ilmu lainnya. Tidak ada seorang pun di istana Umayyah yang mulia seperti dia.”

 

Al-Jazari

 

Nama Ismail Al-Jazari tergolong sebagai ilmuwan muslim yang luar biasa. Ia adalah salah satu mekanik handal yang hidup sekitar abad ke-12. Darimana? Al Jazari adalah bapak robotika di dunia. Sebelum Jepang dan negara lain menemukan robot, sosok muslim ini lebih dulu menciptakan robot.

 

Dalam catatan, Ismail al-Jazari berhasil membuat 174 gambar alat mekanik selama hidupnya. Yang lebih mengesankan adalah sekitar 80 desain sudah memiliki proses untuk membuat gambar.

 

Tak hanya robot, Ehsan Masood menjelaskan dalam buku Science and Islam: A History bahwa Ismail Al-Jazari juga menemukan pompa air. (2008, hlm. 163) menyebutkan jam sebagai salah satu alat luar biasa para cendekiawan Muslim.

 

Mesin pengangkut kayu itu disebut Saqiya. Pompa air sangat berpengaruh terhadap kehidupan di kawasan Timur Tengah. Dalam artikel Biografi Ismail Al-Jazari, Kisah Hidup Penemu Robotika Saksikan Ayah, Saqiya merupakan mesin pengangkut air yang memaksimalkan pengangkutan air dari sumur bawah tanah.

 

Konon Al Jaziri terinspirasi dari alat penghisap ala Bizantium dalam membuat Saqiya. Pada zaman Romawi, alat penghisap seharusnya menjaga api tetap menyala. Untuk memaksimalkan penggunaan saqiya katup dan mekanisme hubungan engkol. Al Jaziri menciptakan pompa hisap dengan dua piston yang dapat bergerak maju mundur secara terus menerus.

Exit mobile version