My Blog

Kisah Putri Ibrahim al-Harbi Yang Takut Miskin

Putri Ibrahim

Ada 12.000 volume buku.

Saya menulisnya dengan tangan saya sendiri.

Jika saya mati, juallah buku seharga satu dirham setiap hari. Barang siapa yang memiliki 12.000 dirham berarti dia bukan orang miskin. -Ibrahim al-Harbi-

Awal Kisah Putri Ibrahim

Alkisah, Abul Qasim al-Jili mengunjungi Ibrahim bin Ishaq al-Harbi yang sedang menderita sakit parah yang hampir membuatnya meninggal.

Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn al-Jawzi dalam bukunya Shifat al-Shafwah, Ibrahim al-Harbi berkata kepada Abul Qasim, “Wahai Abul Qasim, aku punya masalah besar dengan putriku.”

Kemudian Ibrahim memanggil putrinya dan berkata, “Bangunlah! Temui pamanmu!”

Kemudian keluarlah putri Ibrahim al-Harbi. Sambil melepas cadar yang menutupi wajahnya, Ibrahim berkata kepada putrinya lagi, “Ini pamanmu. Bicara padanya!”

Putri Ibrahim kemudian berkata: “Wahai paman, kami menghadapi masalah besar, baik di dunia maupun di akhirat.

Sepanjang bulan dan selama ini kami hanya makan sedikit makanan basah dan garam. Terkadang kita makan dengan sedikit garam.

Kemarin Khalifah Al-Mu’tadhid memberi 1000 dinar tapi ayah tidak mau menerimanya.

Orang lain juga memberinya uang, tetapi ayah tidak mau menyentuhnya sama sekali, meskipun dia sakit parah. ”

Mendengar kata-kata putrinya, Ibrahim menoleh padanya dan tersenyum.

Dia kemudian berkata kepada putrinya, “Wahai putriku, apakah kamu takut menjadi miskin?”

“Ya!” Jawab putri Ibrahim al-Harbi

Ketika Ibrahim mendengar jawaban putrinya, dia berkata, “Lihat kamar pojok!”

Putri Ibrahim kemudian melihat ruangan pojok yang di bicarakan ayahnya dan ternyata di sana banyak buku.

Ibrahim al-Harbi kemudian berkata kepada putrinya:

“Ada 12.000 jilid buku. Saya menulisnya dengan tangan saya sendiri. Ketika saya meninggal, jual buku seharga satu dirham setiap hari. Siapapun yang memiliki 12.000 dirham bukanlah orang miskin.” .”

Kekayaan seseorang di hitung dan di lihat tidak hanya dari kekayaannya, tetapi juga dari ilmu dan akhlaknya.

Namun, banyak orang takut menjadi miskin karena tidak mendapat warisan berupa harta.

Padahal, sebaik-baik warisan adalah ilmu yang di barengi dengan amalan dan di sebarluaskan sehingga bermanfaat bagi umat manusia.

Dan salah satu cara menjadikan ilmu itu bermanfaat adalah dengan mengajarkannya dan mengabadikannya melalui kerja.

Allah SWT. juga berjanji untuk meningkatkan tingkat pengetahuan, bukan orang kaya.

Karena ilmu melindungi pemiliknya, sedangkan pemilik harta menjaga hartanya.

Pengetahuan adalah penguasa kekayaan, sedangkan kekayaan tidak menguasai pengetahuan.

Oleh karena itu kekayaan ilmu lebih mulia dari pada kekayaan harta.

Karena kekayaan kekayaan berada di luar kodrat manusia, dan jika harta itu dihancurkan dalam satu malam, manusia langsung menjadi orang miskin.

Kekayaan pengetahuan, meskipun tidak peduli dengan kemiskinan, sebenarnya akan terus tumbuh karena pada dasarnya itu adalah kekayaan tertinggi. Dan tentunya untuk mencapai tingkat kekayaan tertinggi, berbagai ujian harus di lalui.

Ayo simak juga ulasan berikut ini : Program Kartu Prakerja Tetap Berjalan semoga bermanfaat artikel kali ini!

Exit mobile version