Kisah Penjaga Tanah dan Pemotong Tebu VS Puluhan Singa

Singkat Cerita Bertemu Puluhan Singa

Alkisah ada dua orang pegawai Abu Bakar Muhammad bin Sahl al-Shahid al-Wasithi al-Qadhi yang menjalankan tugas menjaga harta dan tanah majikan mereka.

Mereka menjaga tanah di daerah tandus di dekat sungai.

Sebagaimana di riwayatkan oleh at-Tanukhi dalam bukunya para pengawal itu kemudian pergi ke hutan bersama beberapa orang untuk menebang tebu.

Di perjalanan mereka melihat anak singa seperti kucing liar. Tiba-tiba salah satu dari mereka membunuh anak singa itu.

Tidak lama kemudian datanglah seekor singa jantan dan seekor singa betina yang merupakan ayah dan ibu dari anak yang di sembelih tersebut.

Kedua singa itu tidak melihat anaknya dan pergi mencarinya.

Mereka berdua kemudian mengetahui bahwa putra mereka di bunuh oleh orang-orang yang mencoba menebang tebu.

Yang dirasakan oleh Pemuda

Ternyata orang yang membunuh anak singa tidak merasakan apa-apa.

Mereka tidak tahu apakah sepasang singa yang marah sedang mencari mereka.

Kemudian mereka beristirahat dan tidur di tengah hutan saat malam tiba.

Namun tiba-tiba datang dua ekor singa yang ingin memakannya.

Mereka yang mendengar suara singa pergi dan segera keluar dari hutan, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah rumah tua di luar hutan.

Kemudian mereka berkumpul dan naik ke atas rumah.

Ketika mereka melihat ada kamar di rumah tua itu, mereka menggunakannya untuk menginap dan bersembunyi di malam hari.

Singa jantan, yang marah karena anaknya di bunuh, akhirnya mengikuti, mencari penebang tebu yang keluar dari hutan.

Singa itu akhirnya sampai di rumah yang di gunakan orang-orang sebagai tempat persembunyian dan langsung masuk ke dalam.

Sesampai di ruang tamu rumah tua tersebut, singa tersebut kemudian mencoba melompat ke dalam ruangan tempat bersembunyi dua pegawai.

Dua pegawai tersebut adalah Abu Bakar Muhammad bin Sahl dan para penebang tebu, namun tidak bisa.

Singa itu kemudian pergi dan mendaki bukit di padang pasir lalu mengaum di atas bukit.

Tidak lama kemudian, singa betina masuk ke rumah tua itu.

Adapun Singa betina kemudian mencoba melompat ke tempat orang-orang bersembunyi, tetapi dia tidak mampu seperti singa sebelumnya.

Setelah itu, apa yang terjadi ?

Ketika mereka melihat dua singa yang tidak bisa melompat tinggi, orang-orang berkumpul.

Namun, kedua singa itu mengaum lebih keras.

Tidak lama kemudian, beberapa singa datang dan semua orang melompat, tetapi singa-singa itu tetap tidak bisa mencapai ruangan tempat orang-orang bersembunyi.

Singa-singa itu terus melompat hingga jumlahnya mencapai belasan ekor, namun tetap tidak bisa menjangkau tempat persembunyian manusia.

Orang-orang yang bersembunyi di kamar sudah menyerah, kondisi mereka seperti benar-benar sekarat. Karena jika ada singa bisa sampai ke sarangnya. Mereka secara otomatis menjadi bulan dari puluhan singa.

Di tengah keadaan seperti itu, singa-singa itu tiba-tiba berkumpul membentuk lingkaran. Mereka meletakkan mulut mereka di tanah dan meraung serempak.

Orang-orang yang melihat ini pun semakin ketakutan, apalagi setelah kejadian tersebut, terdapat lubang di tanah yang menjadi tempat nafas auman singa.

Sesaat kemudian, seekor singa hitam datang, kurus, dengan bulu rontok dan kecil.

Semua singa kemudian bertemu dengannya sambil bermain dengan ekor mereka di depan dan di sekelilingnya.

Terdapat 2 singa di tempat tersebut

Singa yang hitam kurus itu kemudian melihat ke tempat orang-orang yang telah membunuh anak singa itu.

Singa itu kemudian mulai memperhatikan posisi orang-orang yang bersembunyi.

Kemudian dia mengambil napas dalam-dalam dan melompat sampai dia mencapai ruang depan di sebelah tempat persembunyian orang-orang.

Melihat hal tersebut, warga panik dan langsung mengunci pintu kamarnya.

Mereka pun berkumpul di belakang pintu untuk menahan pintu agar singa tidak bisa masuk.

Namun, singa hitam kurus itu mendorong punggungnya ke pintu sampai beberapa papan pintu patah.

Singa kemudian menancapkan pantatnya ke orang-orang, dan salah satu dari mereka kemudian menggunakan parang untuk memotong ekor singa.

Karena ekornya di potong, singa itu mengaum keras dan berlari, lalu jatuh ke tanah.

Ia terus mencakar, menggigit dan mencabik dengan cakarnya sampai banyak singa yang terbunuh.

Namun kejadian itu juga menyebabkan singa-singa lain kabur dari rumah tua itu.

Setelah semua singa berlari, orang-orang turun.

Mereka meninggalkan tempat itu hingga akhirnya menemukan sebuah desa.

Di desa tersebut, para penebang tebu menceritakan sebuah kejadian yang hampir merenggut nyawa mereka.

Al-Hikmah dari Kisah Puluhan Singa

Kisah di atas merupakan bukti bahwa penganiayaan atau gangguan ketentraman hidup makhluk Tuhan lainnya dapat berdampak menjadi bencana.

Oleh karena itu, Islam memerintahkan umatnya untuk mencintai binatang dan tidak menyakiti mereka. Inilah sabda Nabi Muhammad SAW. yang melarang orang untuk menyakiti dan menyiksa hewan:

Dari Ibnu ‘Abbas ra, ia berkata, Nabi Muhammad saw. bersabda, ‘Jangan kalian menjadikan binatang bernyawa sebagai sasaran bulan-bulanan,’” (HR Muslim).

Hadits di atas adalah buktinya ya Rasulullah. melarang orang membunuh binatang sebagai taruhan atau permainan.

Karena hewan juga memiliki hak untuk hidup dan mereka memiliki perasaan seperti manusia.

Oleh karena itu, manusia juga harus memperlakukan hewan di sekitarnya dengan baik.

Leave a Comment